Ekonom Top Dunia Sepakat: 2024 Suram & Mengerikan!

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah kepala ekonom dunia mengungkapkan prospek perekonomian global untuk 2024 masih akan lemah, dan penuh ketidakpastian. Prospek ini merupakan hasil survei World Economic Forum (WEF) terhadap para kepala ekonom dunia yang termuat dalam Chief Economists Outlook edisi Januari 2024.

Setidaknya ada 30 responden yang menanggapi survei itu. Separuh dari para kepala ekonom itu, atau 56% nya memperkirakan perekonomian global akan melemah tahun ini, sementara 43% memperkirakan kondisi tidak akan berubah atau menguat dari kondisi 2023.

Tanggapan para kepala ekonom itu menurut WEF seiring dengan perekonomian global yang terus bergulat dengan hambatan dari kondisi keuangan yang ketat, perpecahan geopolitik, hingga kemajuan pesat kecerdasan buatan generatif atau artificial intelligence (AI).

“Outlook Kepala Ekonom terbaru menyoroti kondisi perekonomian saat ini yang tengah dalam masa genting,” kata Saadia Zahidi, Managing Director World Economic Forum dikutip dari keterangan tertulis, Senin (15/1/2024).

Mayoritas responden atau sekitar 77% nya juga meyakini pasar tenaga kerja penuh tantangan pada 2024, 70% kondisi keuangan akan melemah. Meskipun ekspektasi terhadap inflasi yang tinggi telah berkurang, sejalan dengan prospek pertumbuhan negara di berbagai kawasan yang sangat bervariasi dan tidak ada wilayah yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sangat kuat pada 2024.

“Di tengah divergensi ekonomi yang tengah terakselerasi, ketahanan perekonomian global akan terus diuji ke depan,” ucap Saadia.

Prospek ekonomi Asia Selatan dan Asia Timur-Pasifik oleh para kepala ekonom itu anggap masih akan positif dan secara umum tidak berubah dibandingkan survei sebelumnya, dengan persentase masing-masing respons sebesar 93% dan 86% menyatakn pertumbugan moderat, dengan persentase sisanya menggap prospeknya lemah.

Prospek China menjadi pengecualian, dengan porsi 69% responden memperkirakan pertumbuhan moderat karena konsumsi yang lemah, produksi industri yang lebih rendah, dan kekhawatiran terhadap pasar properti membebani prospek pemulihan yang lebih kuat.

Di Eropa, prospeknya telah melemah secara signifikan sejak survei pada September 2023, dengan jumlah responden yang memperkirakan pertumbuhan lemah atau sangat lemah hampir dua kali lipat menjadi 77%. Demikiam juga prospek di Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Afrika Utara, dengan sekitar enam dari 10 responden memperkirakan pertumbuhan akan moderat atau lebih kuat pada tahun ini.

Terdapat peningkatan yang signifikan dalam ekspektasi pertumbuhan di Amerika Latin dan Karibia, Afrika Sub-Sahara, dan Asia Tengah, meskipun pandangan mengenai pertumbuhan secara umum masih moderat dengan porsi masing-masing 70%, 65%, dan 84%.

Ketidakpastian itu diperburuk dengan proyeksi para kepala ekonom itu terhadap memburuknya perpecahan geopolitik negara-negara dunia. Sekitar tujuh dari 10 kepala ekonom memperkirakan laju fragmentasi geoekonomi akan semakin cepat tahun ini.

87% kepala ekonom mengatakan geopolitik akan memicu volatilitas dalam perekonomian global, dan pasar saham sebanyak 80%nya. Lalu 86% menganggap akan meningkatkan kebijakan lokalisasi, 80% mengatakan akan adanya penguatan blok geoekonomi, dan 57% mengatakan akan terjadinya oelebaran kesenjangan ekonomi antara wilayah Utara-Selatan dan dalam tiga tahun ke depan.

“Sebagian besar ekonom juga memperingatkan akan meningkatnya tekanan fiskal (79%) dan perbedaan antara negara-negara berpendapatan tinggi dan rendah (66%),” ucapnya.

Meski demikian, para kepala ekonom itu mendapat sentimen positif keberadaan AI yang memiliki dampak baik kepada perekonomian. 79% menilai keberadaan AI akan meningkatkan efisiensi produksi, dan 74% menganggap akan memberi dampak pada inovasi.

Namun, AI juga mereka anggap akan menimbulkan kesenjangan baru antara negara-negara berpendapatan tinggi dan rendah. 94% responden memperkirakan manfaat AI dalam peningkatan produktivitas ini akan menjadi signifikan secara ekonomi di negara-negara berpendapatan tinggi, dibandingkan dengan hanya 53% di negara-negara berpendapatan rendah.

Hampir tiga perempat (73%) tidak memperkirakan adanya dampak positif AI terhadap penciptaan lapangan kerja di negara-negara berpendapatan rendah dan 47% berpendapat hal yang sama akan terjadi di negara-negara berpendapatan tinggi.

“Selain itu, terdapat perbedaan pandangan mengenai kemungkinan AI generatif meningkatkan standar hidup dan menurunkan kepercayaan, dimana keduanya lebih mungkin terjadi di pasar berpendapatan tinggi,” kata Saadia. https://nutriapel.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*